Posting : Keinginan Itu….

Kapan mau postingan lagi? Atau. “masih sering posting?”

Adalah dua pertanyaan yang kadang bikin saya jadi keder. Rasanya saya malu sama temen yang udah susah payah memandu web mana yang dipilih sebagai tempat nge-blog, sambil ber-hahahaha ngajarin nge-blog *saking gobloknya*, dan sampai kepada hal remeh-remeh tentang blog itu. Oops, I’m sorry friend. Memang, waktu yang tersisa dari sekian jam terjalani tiap hari jua lah yang menentukan apakah posting-memosting itu jadi rutinitas yang bisa dijalani. Pulang dari aktivitas kantoran, organisasi, temu politik, ngalor - ngidul - ngopi - ngejamz *maksudnya ber-jam session di mobil* dan sebagainya sudah menghabiskan delapan jam dari 9 to 5. Sampe di rumah, pas sedikit lagi mau adzan maghrib, mandi sebentar trus maghrib-an, selanjutnya menerima laporan anak-anak tentang hal-hal di sekolah sambil ditanya ini itu yang ga’ ngerti dari soal-soal IPA, Matematika, maupun PPKN.

Biasanya, sekitar jam setengah sembilan malam atawa sembilan lebih sedikit, masih ada aktivitas luar rumah yang masih juga seputaran dunia politik, dunia kerja swasta, dunia organisasi yang—kadang—tak terselesaikan siang hari, atau yang belum terjadwalkan *duh, seperti yang begitu pentingnya!*. Tapi, demikianlah adanya, bukannya mengada-ada, bukan pula membuat diri ini seperti memang sengaja tercampakkan di lembah kesibukan yang dibuat sedemikian nistanya. Hahahaha. Jadinya, pulang dari ‘keluyuran’ yang bujubune lebih banyak membuat kepala berdenyut-denyut, akhirnya ketika masih sempat membuka laptop di jam 12-an sampe satu dini hari yang tertinggal cuma ampas-ampas pemikiran, yang toch buat apa dituangkan dalam sebuah postingan.

Kadang, saya berfikir apakah menulis itu menjadi sangat sulit saat ini? Entahlah, padahal berbicara jadi jauh lebih mudah ketimbang menulis yang bahkan harus lebih dulu dicerna, dicermati, diatur sedemikian rupa sehingga tidaklah menjadi sesuatu yang ‘kering’ bahkan lebih parah lagi cuma sekadar jadi ’sampah’. Sungguh, keinginan itu masih tetap menggebu disini.

Entahlah……

Puisi : Keberangkatan itu…

keberangkatan itu, begitu getir. tanpa suara.

sudah kau siapkan kah bekal untuk hari-hari tanpa batas, gun?

selamat jalan……..

 

buat gunawan

seorang teman, senantiasa tersenyum

yang telah ‘pergi’ tadi malam

jam 21.15

 

Keseharian : Senyum Itu…

 

Mengapa begitu susahnya untuk tersenyum?

Bahkan, ketika hari-hari kita pun telah digerogoti oleh ‘kuman-kuman’ kehidupan yang bernama penderitaan. Ketika hidup pun makin sesak dengan persoalan-persoalan kebangsaan yang kian lama kian membuat kita semakin muak. Mendengar betapa pandirnya seorang anggota DPR yang terhormat, di sebuah hotel terkenal bernama Ritz-Carlton, menerima segepok uang—dibungkus keren dengan sebutan gratifikasi—masih ditambah lagi dengan seorang wanita pekerja tempat hiburan, yang berkali-kali berusaha menyembunyikan wajahnya dari terpaan blitz kamera. Melihat, betapa kukuhnya seorang pedangdut wanita seksi, menganggap bahwa goyang dan pakaiannya yang seronok hanyalah bagian dari sisi entertain yang akan lewat dan menghilang tanpa bekas begitu ia turun panggung. Menyaksikan, betapa memilukan anak kelas 5 SD menggantungkan dirinya di tiang pintu kamar, hanya karena dimarahi dan dilarang bermain play station. Menonton televisi, menyiarkan sebuah amukmassa hanya dikarenakan tak mendapatkan seliter minyak tanah karena stoknya sudah habis, sementara yang membutuhkan masih sederet dua deret antrian.

Senyum telah menghilang dari wajah kita. Berganti dengan kerut mulut menukik, menandakan kegetiran. Senyum telah menghilang dari hati kita. Berganti dengan kegeraman yang kadang memuncak memuncratkan caci maki. Senyum telah lama mati dari wajah kita. Berganti dengan kain kafan yang menyelimuti diri kita, dan siap mengubur kita bersama mimpi-mimpi tentang bangsa yang sejahtera, damai, dan berpengharapan. Senyum telah lama terbang ke langit. Berganti dengan awan gelap yang menenggelamkan matahari menyisakan setitik saja cahaya untuk memberikan petunjuk dimana sudut kehidupan tempat kita meratap….

Senyum itu.  

Puisi : Rindu Itu…

 

aku tahu, aku cuma punya sekeping rindu

sungguh, cuma sekeping……

itupun, entah mampu entah tidak

menempati bagian paling pinggir sekalipun

di lubuk hatimu…..

 

Pilkada : Kekuasaan Itu…..

Adakah seorang Amien Rais merasa amat bersalah dengan situasi yang terjadi sekarang ini? Apa yang menjadi pemikirannya tentang negara federasi—yang untuk selanjutnya—pada masa sekarang ini diterjemahkan sebagai otonomi daerah lewat olahan tangan dingin Ryas Rasyid, ternyata telah melahirkan kekuasaan baru, pemegang otoritas daerah yang otoriter, dan thinking of anything to doing everything. Lihat saja, pemekaran kabupaten/kota di seluruh Indonesia telah menginjak angka ratusan. Pernah anda bayangkan, ratusan walikota dan bupati berkumpul di suatu acara, dan semuanya membanggakan apa yang telah dilakukannya untuk daerahnya masing-masing.

Lalu, seperti apa yang telah mereka perbuat? Mereka berlomba-lomba membangun proyek mercusuar berbujet belasan sampai puluhan milyard. Terbayangkah anda di awal tahun 90-an proyek gila-gilaan ini dibangun bertebaran di seluruh propinsi, kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Tak pernah terlintas sedikitpun, karena saat ini kita masih terbelenggu oleh kemiskinan, keterbelakangan, dan kesenjangan sosial yang masih amat lebar. Jika, sekarang, seluruh wilayah pemekaran berlomba-lomba memegahkan daerahnya dengan gedung dewan, gedung kantor pemerintahan, bahkan sampai kepada rumah jabatan ketua DPRD dan rumah jabatan gubernur, walikota dan bupati yang begitu mewahnya, adakah ini berarti bahwa kita sudah mulai makmur ?

Pilkada, melahirkan kekuasaan. Dan, kekuasaan itu melahirkan kerakusan, kepongahan, dan kejumawaan. Yang ada sekarang adalah sekelompok masyarakat—secara berani dan tak tahu malu—mengatasnamakan kepentingan peningkatan percepatan pertumbuhan daerah tertentu, berjuang habis-habisan di pintu DPR-RI dan DPD-RI guna mendapatkan selembar legalitas : propinsi atau kabupaten/kota pemekaran. Adakah niat itu sebanding paralel dengan kehidupan masyarakat yang telah meninggalkan najis keterpurukan ekonomi? Sesungguhnya tidak. Di koran-koran dan televisi-televisi secara rutin menyiarkan bagaimana di tengah kota Makassar mencuat kasus gizi buruk yang memakan korban anak-anak tewas. Di kota-kota, masyarakat pada level bawah, masih antre minyak tanah sampai dua kilo meter panjangnya antrean jirigen. Pada level masyarakat menengah, kelangkaan gas elpiji mewarnai dan mengimbangi kelangkaan mi-ta, ditengah gagahnya pemerintah mengumandangkan program pengalihan kebiasaan masyarakat dari minyak tanah kepada gas elpiji. Di beberapa daerah, byar-pet listrik negara masih menjadi menu harian di beberapa daerah, air bersih ( katanya, walaupun setelah terukur kadar lumpurnya masih tinggi ) menjadi keluhan masyarakat setengah mencaci maki.

Lalu, kemana hati nurani gubernur, walikota, bupati, ketua dan anggota dewan—-di Indonesia diembel-embeli kata terhormat—-melihat fenomena masyarakat yang masih amat menderita? Ternyata, hati nurani hanya terbungkus rapi dalam kantong janji-janji yang begitu lantang diungkapkan ketika kampanye pilkada……

« Previous entries